Wednesday, April 16, 2014

Review #TanpaBatasVol2

Lagi lagi kecintaan akan standup comedy membawa gue ke show ini. Special show #TanpaBatasVol2 tour oleh Sammy @notaslimboy, yang tentunya merupakan kelanjutan dari tour #TanpaBatas yang lalu. Tour ke-10 kota di seluruh Indonesia, termasuk Medan 12 April 2014 di Taman Budaya Sumatera Utara.

Jadi Sabtu malem kemaren, gue nonton ini ber-4 sama Indah, Valen, dan Liana. Promo nya sih beli 3 tiket gratis 1, bro gretongan. Hahaha.
Terakhir kali nge-review stand up comedy show untuk #MesakkeBangsaku, gue dapet hadiah gadget. Hahaha, kali ini nggak ngarep deh *nggak ada juga kompetisi nya -__-*. Anggep ini sebagai oleh-oleh dari gue aja karena acara nya memang keren banget!


Ada yang menarik dari tema "Komedian Menggugat" yang diangkat dalam show ini. Sesuai nama acara nya #TanpaBatas, berarti celotehan para komik yang memang tak berbatas. Hahaha, penjelasan yang nggak ngebantu deh.

Acara dibuka oleh duo MC #GELOXGILAX @indrajegel yang beatboxer dan @siLoLox yang kabarnya bakal main di film #LontangLantung. Ternyata MC nya beneran gelok dan gilak! Kocak parah dan penuh drama deh mereka.


Dua opener malam itu, yang dua-duanya merupakan komik lokal medan, juga sukses bikin penonton riuh.

Opener 1 - @cacink17
Duh gue lupa nama lengkapnya. Tapi nggak pentinglah, yang penting udah foto bareng, hahaha.
Baru muncul diiringi soundtrack cacing-cacingan + joget dengan gaya cacing-cacingan juga aja udah bikin penonton ngakak. Belum lagi nyeritain kehidupan pribadi nya yang aneh bin ajaib. Kocak!
Selain sering open mic, setau gue Cacink juga sempet beberapa kali juara kompetisi stand up comedy di Kota Medan. Nggak heran penampilannya udah pro deh.


Opener 2 - @bhebhita 
Ini ke-2 kalinya gue nonton show Kak Gita sebagai opener, setelah sebelumnya dia juga jadi pembuka di show nya Pandji #MesakkeBangsaku. Sayangnya untuk ke-2 kalinya juga gue nggak sempet foto bareng doi :(
Rasanya gue nggak perlu nge-review banyak tentang dia, masih menonjolkan ciri khas nya dengan bit-bit yang nyinyirin diri sendiri. Bedanya, penampilan Kak Gita kali ini semakin matang dengan materi baru yang lebih fresh.



Headliner - Sammy (@NOTASLIMBOY)
Dengan mengenakan kemeja berlapis sweater V neck, malam itu Sammy terlihat lebih 'bulat' daripada di TV, sekaligus lebih kharismatik. Siapa sih yang nggak kenal Sammy? Komik nasional kawakan yang juga merupakan ketua komunitas @StandupIndo, ya minimal se-nggaktau-nggaktau-nya orang seenggaknya kenal deh kalo disebut "Bang Stand Up Comedy". Hahahaha!
Ciri khas Sammy banget kalo materi nya yang katanya terlalu berat itu lebih banyak menyangkut soal politik, sejarah, pendidikan, agama dsb. Berat dalam konteks komedi maksudnya.

Niatannya untuk menghibur penonton totalitas abis, terbukti di salah satu penampilannya, Bang Sam sampe bawa-bawa properti semacam koran dan bahkan alkitab! Doi malah cocok loh jadi pendeta/penceramah kayak yang di gereja-gereja itu,
"gimana? Udah mulai tertarik masuk Kristen?", candanya setelah membacakan salah satu ayat di alkitab.
Bisa dibilang, power dari Sammy ini ada di punchline nya. Beberapa bit yang awalnya garing, biasa aja, tiba-tiba jadi kocak banget di akhir. Dari hening mendadak jadi riuh. Itulah yang bisa menggambarkan penontonnya di setiap akhir opini yang disampaikan Sammy. Nggak melulu riuh karena kelucuan nya, tapi sindiran, fakta, opini, atau apapun yang disampaikan Sammy memang bener-bener pas ngena dan menggugah nalar. Cuma komika cerdas yang bisa begini!
Salutnya, doi bisa membawa aura pertunjukkan. Penonton yang udah ngantuk berat, jadi seger lagi dengerin lawakannya yang berirama. Magic!
 "Everything has a price!"

Satu-satunya kekurangan dalam show ini cuma masalah lokasi nya aja sih menurut gue. Jauh dari keramaian dan kurang memuaskan. Overall, #TanpaBatasVol2 malam itu pecaaaaahhh!!



Thanks to komunitas @StandUpIndo_MDN yang udah nyelenggarain acara ini. See you on the next event!

Sunday, March 30, 2014

The Color Fund! #Colorful22

As you know, I'm obsessed by colors, both in the case of clothes or dealing with life. Therefore, in this my 22nd birthday, I decided to make it #colorful22 as the theme. Besides that, it was inspired by the running event 'The Color Run', which is very popular among young peoples nowadays. Hahaha. In addition to healthy, it was also fun!

It isn't really different than last year event, it's about sharing free foods for homeless peoples on the road. But in more creative way. It was:
"THE COLOR FUND"
A charity food on the road

Thursday, March, 27th 2014
Simple invitation.
But believe me, I make it by the deepest heart :p

Sorry to make the limited invitation. But actually this event isn't limited to invited friends only. If you want to join, I just welcome (if the transports are enough). So, confirm me first. I hope someday you could join us :)


22+1 food packages and milks were distributed successfully! Why milk? Because it's not only about share some foods without a care, but also caring of their nutritious, to make them more healthy maybe.

I felt this year event running more faster than last year, the homeless and the janitors are more easily to found. Don't know why, but I hope it wasn't because their numbers are increasing every year. Believe it or not, when we see their happy faces, we feel satisfied! Thanks for giving me the opportunity to do this charity.

Special thanks to the invited friends who join this event, 'Sosialitak Corporation' team: Mega, Henny, Valen, Janet, Indah, Ary, and Leto. Actually, I'm nothing without them, they're really helpful me a lot. We are 8 girls who make the street colorful that day! Thank you very much, guys. You're all awesome and totally rockin'!
And for somebody who can't join because of many reason, it's okay. Maybe someday if I could held some event anymore :)

We do believe that 'socialite peoples' are not about the people who doing regular gathering, shopping, or hanging out only, but doing social activities too. However, life isn't only about take, but also give and share even more and more. That's why we are 'Sosialitak Corporation'. LOL!


By the way, I got a little fancy surprise from them in some session. In the morning from Evi and Indah, who wake me up that day.

 
Sorry for the messy bedroom


And at the afternoon again by full team:





And from the tennis bestie, Ayuni:



Thankyouuu in advance, my bitches! It was so special, and you've made my day!
Love youuu <3 p="">
Thanks also for you who's giving me the birthday greetings by text, comment, and another social media. Can't reply one by one, but it was all fantastic wishes I've read.


Waaahh I'm feeling 22!
I could say it was such a successful simply mission. My besties are look more colorful, fashionable, more solidarity, and also caring with a social touch. My #colorful22 mission was accomplished!

Tuesday, March 25, 2014

Mystery Addicted

Belakangan jadi candu bacain novel-novel detektif disela sela waktu nganggur gue. Selain dari karangan Sir Arthur Conan Doyle dengan tokoh Sherlock Holmes nya yang iconic itu, pastinya para penikmat novel misteri juga udah nggak asing lagi sama novel-novel karangan Agatha Christie. Yep, disaat Sherlock Holmes dianggap 'so last year' *walaupun ceritanya tetep tak lekang oleh jaman sih*, Agatha Christie menghadirkan cerita-cerita misteri yang lebih kekinian di era abad ke-20, lebih fresh, dan alur cerita yang unpredictable bagi masyarakat awam.



Sebenernya sih nggak bisa dibilang baru belakangan juga, awal perkenalan gue sama novel Agatha Christie malah dari kelas 5 SD karena di rekomen temen. Justru waktu itu pertama kalinya gue baca novel tebel, dan karena novel Agatha Christie yang brilian itulah gue jadi hobi baca novel sampe sekarang. Perasaan ketika kita selesai baca satu buku, dan jadi kagum banget sama tokoh utama bahkan sama pengarangnya, perasaan dimana kita jadi berpikir, "wah kok bisa ya?" itu loh yang bikin nagih.
Selain itu juga bacain tokoh-tokoh anak badung dan seri petualang kayak karangan Enid Blyton atau Astrid Lindgren. Nggak heran kalo sekarang moral gue jadi rada rusak, wong sejak dibawah umur gitu bacaannya udah kasus-kasus pembunuhan aja, hahaha. Kalo dulu bacaannya masih yang kumpulan kasus-kasus pendek, kalo sekarang mulai nyari yang lebih berat sampe ke karangan masterpiece nya.

Kadang baca novel nggak sekedar jadi hiburan semata, karena ternyata ada banyaaaaak banget ilmu dan moral yang bisa kita dapet dari isi nya. Apalagi novel terjemahan. Selain berimajinasi, kita juga seolah merasakan sendiri petualangannya dan menyerap budaya 'luar' yang beragam, yang konon katanya bisa merubah pola pikir secara global. Wuihhh berat ya bahasa gue! Tapi serius, gue ngerasain banget.

Sebagai contoh dari cerita-cerita kasus detektif itu kita jadi paham kalo ternyata kejahatan tuh muncul bukan cuma karena ada niat, kecerdasan pelaku nya, dan kesempatan, tapi juga semacam keberuntungan. Kejahatan pertama memicu kejahatan-kejahatan berikutnya, kedua, ketiga, dan seterusnya. Jadi kalo kejahatan pertama berhasil, jangan berbangga dulu, belum tentu kejahatan berikutnya bisa berhasil juga walaupun udah diatur strategi nya matang-matang, kali aja pas lagi sial, nggak beruntung. Misal deh mau ngerampok. Udah selesai ngerampoknya, rasanya udah berhasil kan, terus mau pulang dengan membawa keberhasilan itu, eh ternyata di jalan kepergok polisi. Nah kan sial tuh, ada niat dan kesempatan tapi nggak ada keberuntungan. Ngenes. Noted, pelajaran pertama buat jadi mafia!

Ada juga beberapa unsur kebudayaan yang tersirat di novel terjemahan. Disadari atau nggak ya oleh pengarangnya, kadang kita para pembaca jadi paham betul situasi setting tempat dalam cerita itu, padahal kita belum pernah kesana. Jadwal kereta api, stasiun perhentian, rumah tua, kebangsaan para tokoh, seolah-olah semuanya nyata di depan mata kita. Rasanya kita udah kenal banget sama si tokoh A yang berkebangsaan Belgia, tokoh B orang Inggris, si C orang Perancis, D orang Amerika. Lengkap dengan aksen dan logat-logatnya pun kita kenal. Yah, semacam pemahaman karakter sih, sambil belajar stereotype masing-masing kebangsaan juga. Lumayan kan buat wisata imajinasi.
"Very few of us are what we seem."
- Agatha Christie -
Terakhir, kita belajar untuk selalu menggunakan sel-sel kelabu otak kita dalam setiap pemecahan kasus. Begitupun dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari, don't leave your brain at home!


Tuesday, March 11, 2014

Fashion Blogger Interview: Lorenzo Liverani

I did some interviews with fashion bloggers and fashion brand when I was an intern at whatiwear.com. It was such a new thing for me, because I could make some relationships with local and international fashion peoples around the world. Not only do interviews, that means make the question list, but also make the nice article about it, editing, and layout too by myself. Honestly, I can say this is my fave job scope ever!

This is one of my work, the interview with Lorenzo Liverani from yourmirrorstyle.com.
Check check check....

http://whatiwearhappenings.files.wordpress.com/2014/03/lorenzo-1.png
http://whatiwearhappenings.files.wordpress.com/2014/03/lorenzo-2.png
http://whatiwearhappenings.files.wordpress.com/2014/03/lorenzo-3.png
http://whatiwearhappenings.files.wordpress.com/2014/03/lorenzo-4.png
http://whatiwearhappenings.files.wordpress.com/2014/03/lorenzo-5.png
http://whatiwearhappenings.files.wordpress.com/2014/03/lorenzo-6.png
http://whatiwearhappenings.files.wordpress.com/2014/03/lorenzo-7.pnghttp://whatiwearhappenings.files.wordpress.com/2014/03/lorenzo-8.png

It was a great opportunity that I could interview this amazing person. I did it professionally, regardless of the fact that I was one of his fans. We do interview by e-mail, and unexpectedly his response was very quick, he reply me as soon as possible. More than that, psssttt...he gives me a special message,
"Pull out your personality and your outfit will be amazing and unique, Big hug!"
Ahhh, such a nice guy! I hope someday I can speak with him face to face :)
Have a great day, Mr. Lorenzo!

You could also see this interview at whatiwear's blog.

Tuesday, February 18, 2014

Karma Does Exist

Ada satu kejadian dimana gue merasa bener-bener jahat. Ceritanya waktu pertandingan tenis beregu di Thailand tahun lalu.
Kejadiannya pas tim gue, Indonesia, versus Thailand. Nggak banyak orang Thailand yang bisa berdialog bahasa Inggris, begitupun orang-orang Indonesia termasuk personil tim tenis. Kebetulan, gue bertindak sebagai translator di tim sih bisa dibilang. Jangan pikir karena gue yang paling jago berbahasa Inggris, tapi gue cuma lebih berani ngomong aja daripada yang lain-lainnya walaupun salah-salah. Hahaha.

Dalam tenis beregu tuh ada 5 orang pemain: single 1, double, dan single 2, satu lagi pemain cadangan. Kadang waktu yang dimainkan antara ke-3 matches itu nggak bersamaan, jadi kita bisa ngasih support ke tim kita kalo lagi belum gilirannya main. Karena ada tim putra dan putri, jadi totalnya ada 10 pemain. Kita gantian me-manager-in tim. Misal kalo tim putri maen, tim putra jadi manager, begitupun sebaliknya.

Waktu itu gilirannya temen gue pemain single 1 putri yang main. Temen gue ini orangnya rentan cedera, apalagi kalo udah match diatas 3-4 jam gitu. Kebetulan kondisi lawannya, yang orang Thailand itu, juga lagi cedera ankle gitu deh. Walaupun skill permainannya diatas kertas sih diatas tim kita, tapi karena kondisinya lagi begitu parah, jadi kita optimis punya kans untuk bisa menang di match ini selama dia masih fit dan bisa bertahan main dibawah waktu 3 jam.

Ternyata sampe lebih dari 5 jam, match itu nggak kelar-kelar juga. Skor nya udah kejar-kejaran, hampir seri, mana pertandingan berlangsung ketat pula, jadi rasanya pengen cepet-cepet menang di match ini.
Nah di akhir-akhir si lawan mulai ngulah cedera nya. Sedikit-sedikit break, langsung dikasih spray therapy, semacam pain killer yang disemprot di pergelangan kaki nya untuk ngurangin rasa sakit akibat cederanya itu.

Takut kelamaan, udah khawatir ntar malah temen gue lagi yang cedera juga. Mungkin karena itu deh, timbul pikiran jahat di tim kami, yang menurut gue... agak sedikit licik. Mungkin. Beneran bukan gue yang mulai, tapi para cowok-cowok yang jadi manager kami yang ngasih saran awalnya. Mereka nyuruh gue translate,
"Dres, bilangin dong ke wasitnya. Harusnya dalam peraturan standard tuh nggak boleh di setiap break dikasih obat spray. Paling nggak 2-3 kali aja dalam 1 match, jangan keseringan."
Dalam hati sebenernya gue nggak tega sih ngomongin ke wasitnya. Tapi dalam posisi kayak gitu, nggak mungkin juga gue nolak, ntar kesannya nggak men-suppport tim sendiri. Tapi kalo gue ngomong, kok kayak jahat banget ya gue nggak mengharap kesembuhan si orang Thailand itu. Kan kasian juga dia tanding pas lagi cedera-cedera gitu, masa nggak boleh diobatin?! Gue sadar kalo itu pikiran brengsek yang seharusnya nggak pantes diomongin bagi orang-orang beragama. Sialan banget kan mereka malah nyuruh gue!

Dengan terpaksa lah jadinya gue translate juga, ngomong ke wasitnya yang juga orang Thailand. FYI aja, wasit ini sebenernya sempet clubbing bareng gue semalemnya. Jadi...entah karena udah ngerasa ce-es-an, atau memang peraturan tenis yang seperti itu, intinya dia setuju dengan protes-brengsek-gue. Gila kan dia baek banget! Mengingat dia kan juga orang Thailand, kenapa malah pro ke kita sih, bukannya ke lawan aja.

Nggak lama setelah diberlakukannya peraturan spontan itu (tentang larangan menggunakan pain killer spray setiap saat), kayaknya si atlet Thailand ini memang mentalnya hebat banget, dia kuat aja loh bertahan dan nggak gampang nyerah. Lama-lama keliatannya malah temen gue yang down ngeladeninnya. Match nya udah hampir 6 jam, brooo! Bayangin deh, orang sehat aja mungkin bisa tiba-tiba kram di tempat kali kalo main single selama itu. Lagi siang bolong terik-teriknya pula. Temen gue udah nggak sanggup agaknya, dan apa yang kita takutin sebelumnya kejadian. Dia ikutan kram! Cukup parah, kram dari kaki menjalar ke perut. Duh, kayaknya sih kena karma juga nih gara-gara tadi sempet licik ke lawan.
Dan yang nggak terduga, tim Thailand yang tadi kita jahatin itu bukannya bales dendam, malah mereka yang perhatian banget nunda pertandingan, ngasih pain killer spray, nyediain es batu, manggil tim medis. Pokoknya mereka ngebantu banget deh. Hal ini membuktikan mereka sebagai lawan sekaligus tuan rumah yang baik dan bertanggung jawab.

Akhirnya karena temen se-tim gue itu udah nggak sanggup lagi, kita nyerah dengan mengakui kekalahan. Ya, kita kalah, baik secara phisically, mentally, dan bahkan attitude.
Sedih sih. Tapi yaaahh... toh pada akhirnya terbukti juga siapa yang kuat tanpa perlu licik-licikan.

The double's match Indonesia vs Thailand


--->>> Itulah salah satu alasan kenapa gue adore Thai peoples. Selain karena tata krama yang baik, ramah, mereka punya kepribadian yang amazing. Mungkin nggak semua orang Thai begitu, ya tergantung orangnya masing-masing juga sih. Tapi secara umum, itulah yang gue simpulkan dari orang-orang Thai. Tanpa sadar, mereka udah mengangkat kebudayaan mereka sendiri di mata bangsa lain.
Dan tanpa bermaksud menyinggung SARA... Walaupun selama ini gue adalah penganut Buddhisme, tapi gue malah baru sadar dari orang-orang Thailand yang juga Buddhism itu tentang perasaan metta karuna (cinta kasih, kasih sayang) ke semua makhluk, nggak peduli kawan atau lawan.

Saat itu perasaan dosa gue makin menjadi-jadi...

Your lucky number-

Web Site Counter
Thankyou for wasting time reading this blog :)
You've just been updated by dRezuecism

Let's share..