Wednesday, January 21, 2015

Statement Style

Beberapa hari yang lalu gue lagi seneng-senengnya sama warna rambut gue. Ombre 3 warna gitu, hitam, blonde, dan fuchsia.


Tapi ternyata nggak lama setelah itu ada kejadian yang menyebabkan kepercayaan diri gue jadi menurun drastis. Tau nggak karena apa?
Karena rambut gue tidak lagi OMBRE!

Oke deh gue lebay. Toh rambut bukanlah sesuatu yang kekal dan nanti bisa tumbuh lagi, bisa diombrein lagi. Lagipula level kegaulan seseorang itu kan nggak cuma diukur dari rambut doang. Walaupun temen-temen sih pada bilang gue lebih bagus dengan rambut hitam. Entah mereka cuma mau menghibur gue aja, atau beneran bagus. Pokoknya gue tetep nggak suka. Gimana sih ya, semacam kehilangan statement style deh. Ngerti dong ya melakukan sesuatu yang kita nggak suka demi menuruti keinginan orang lain itu rasanya...

Hal ini dikarenakan ada subjek-subjek tertentu di kampus yang memang udah menegur gue secara langsung, face to face, yesss bukan lagi dengan cara menyindir. Caranya ketika menegur itu halus sekali dengan menggunakan kata-kata pilihan,
"Dres, saya gimana yaaa bilangnya sama kamu. Hhmmm agak nggak enak juga sih, saya tau itu hak asasi kamu..."

Perasaan gue juga mulai nggak enak.

"Tapi kami punya peraturan. Supaya sama rata dengan teman-teman yang lainnya, supaya lebih enak dilihat pasien, supaya bla bla bla...."
Dia tau aja loh gimana bikin gue sensitif! Gue gitu sih orangnya, kalo dimarahin mungkin gue bisa bertahan. Tapi kalo doi baik-baik gitu ngasih nasehat nya, yaa secara gue respect, gue jadi lemah. Alhasil gue turutin ajalah keinginan subjek tersebut walaupun terpaksa. Padahal dalam hati gue bete bangeeeeet :( Kenapa coba kita harus disama-ratakan? Kenapa sih kita nggak boleh punya ciri khas masing-masing?!

Ini masalah statement style sih. Kalo atlet ada yang namanya statement stuff, yaitu benda-benda penunjang penampilan kayak topi, wristband, atau pakaian dengan model tertentu, yang penting banget dipake saat pertandingan untuk meningkatkan kepercayaan diri si atlet tersebut. Misalnya Rafael Nadal dengan celana 3/4 nya, atau siapa deh atlet yang kalian tau punya benda kesayangan soalnya gue nggak bisa ngasih contoh yang lainnya, terlalu jauh nanti pembahasan kita... Nah sama kayak atlet itu, kalo sekalinya karena sesuatu hal, statement stuff tersebut kelupaan dibawa dan nggak dipake saat pertandingan, rasa percaya diri akan berkurang sehingga performance nya jadi buruk. Statement itu semacam bagian dari diri kita yang seharusnya nggak diganggu gugat oleh orang lain.

Menurut gue, setiap orang punya statement nya masing-masing. Baik dari segi penampilan, kelakuan, cara berjalan, cara bicara, dan lain-lain. Semua orang punya itu, walaupun pada beberapa orang ciri khas nya nggak terlalu kentara. Nah itu dia permasalahannya, ada orang yang punya karakter kuat sehingga ciri khas nya sangat menonjol daripada orang-orang lainnya. Ada orang yang kelihatannya biasa aja walaupun sama-sama punya ciri khas, tapi nggak dominan sehingga  orang dengan tipe begini kadang jadi invisible di komunitasnya. Sebagai makhluk sosial, jelas kita pengen diakui keberadaannya. Semua orang pasti mau menjadi smart, dynamic, and bright. Jadi, kalo kita bisa terlihat menonjol, kenapa masih mau jadi orang yang 'biasa' aja?

Semakin dipikir gue semakin heran deh. Kenapa harus gue yang disuruh menyamakan diri? Kenapa nggak temen-temen lain yang menyamakan gue? Supaya kita semua sama-sama terlihat stylish gitu loh. Kenapa juga ya di kampus dari ratusan orang gitu cuma gue yang ngombrein rambut? Gue sadar sih bahwa gue juga bukan orang yang sangat stylish. Toh fenomena rambut ombre bukanlah gue trendsetter nya, gue cuma followers mode masa kini kok. Gue paham kok kalo level stylish seseorang memang bukan cuma diukur dari rambut ombre. Tapi apakah sebegitu nggak peduli nya mereka terhadap perkembangan mode? Apakah semua calon tenaga medis dan staf pengajar ini sangat sibuk sehingga tidak mengikuti trend?  Apakah mahasiswa/i nya takut dimarahi seperti gue? Memang nggak ada banget nih yang berani breaking the rules? Nggak ada banget nih yang bercita-cita menjadikan kota ini sebagai fashion capital semacam London, Milan, Paris? Mungkin kalian pikir gue suka berimajinasi ketinggian, tapi namanya juga usaha ya harus dimulai dari diri sendiri dulu kan. Menjadi seseorang yang berprofesi di bidang medis bukan berarti melulu membahas isu-isu kesehatan aja, tapi juga perlu open minded di bidang lainnya. Kalo begini, standard deh ya apa yang dipikirkan orang-orang luar terhadap kesan dokter: preppy, kaku, oldfashioned, dan boring!



Untungnya nggak semua subjek di kampus itu oldfashioned, ada juga kok beberapa yang sejalan pikirannya sama gue. Salah satu departemen paling stylish misalnya, sebut aja departemen S. Pernah gue cerita tentang masalah gue disindir, dibully, dan...whatever you named it, tentang penampilan gue di departemen lain, sebut aja departemen XYZ. Diluar dugaan, mereka bijaksana banget. Gue bisa bilang bijaksana bukan cuma karena mereka men-support gue aja, tapi juga ngasih masukan yang bermanfaat,
"Nggak apa-apa Dres, kan kamu jadi terkenal loh malahan. Coba kamu warnain ungu aja rambut kamu, terus kalo disindir sama dosen kamu bilang aja, ini trend terbaru loh, Dok!", kata seseorang di departemen S yang stylish dan berjiwa muda banget.

"Lain kali kalo masuk di departemen XYZ, kamu hitamkan rambutnya. Kan nggak semua orang berjiwa muda seperti kami", kata seorang lainnya.
Seenggaknya, perasaan gue sedikit lebih tenang karena ternyata masih ada orang yang menurut gue berakal sehat dan stylish di kampus ini. Departemen satu itu memang beda banget deh. Loveliest!


By the way, seseorang di departemen XYZ yang selama ini pikirannya nggak pernah sejalan sama gue, yang katanya haters gue, kenapa pas ulang tahunnya malah ngasih gue first cake cobaaaa?


Yaaahh namanya juga fans in denial...
Thankyou for making me feel like a celebrity!


Karena warna rambut gue beda sendiri, karena gue sering ngelawan, karena gue sering telat, karena gue rebel? Hahaha rejeki anak brengsek :p
Jadi inget quote ini,
To be success and famous, you don't need to be better. You have to be different!
- Raditya Dika -

Saturday, January 17, 2015

Holiday Getaway

Indonesia has many beautiful places to explore. As an archipelago country, we had about 13.466 islands from Sabang to Merauke. Thanks God I live in Lampung, a province which located at the end of Sumatera Island and a lot of tiny islands around.



In my latest holiday, I try to explore the beach. Lampung has many beaches with white golden and smooth sand. I always love walking along the seaside and play with the blue sea water. When I was a child, I usually collected the shells although when go home I often forget to bring it. Hahaha. Yess, I'm a beach enthusiast!



If you're looking a far from the seaside, you can see many another islands on the other side. You need choose one or two to be explored by a wooden ship. The cost is not really expensive if only you can bargaining with the ship man.

The famous one is Pahawang Island, but I didn't have chance to go there because it was too far from the place we were. I was at Sari Ringgung Beach, so the other option is only go to Tangkil Island and Pasir Timbul. It's not bad and equally attractive. Mostly island isn't truly different, they have the similar characteristic: quite, unexploited, windy, and peaceful. Just xoxo.

It isn't only beach, but beach and resort. They have cottage and tents if you want to spend the night there. There's also some water sports something like banana boat, diving, snorkeling, bike rental, beach volley, etc. Very nice for your adventuring holidays.


Tangkil Island
is an unexploited island where the nature grow fearlessly here. Unfortunately we went at the end of the year when the tide. It cause the seaside is turning down and we can't go over the sea to take some photos :(
You can enjoy your summer time here with diving. The moss, algae, corals, and underwater life are waiting for you!



So...how much do you miss holiday?
Better to prepare your sunblock, sunglasses, and hat. Happy exploring Indonesia!

Tuesday, January 13, 2015

MLTR #25Concert

Start the year with a lovely concert. With my lovely sister @likesplendya and lovely friend too @saeyori :)
Michael Learns to Rock (MLTR) lives in Bandung!



MLTR have many tours around Indonesia this year, such as Bali, Bandung, Medan, Makassar, and Jakarta. But we choose Bandung just because this city give the cheaper ticket price than others, of course held by the different promoters also. It's their 25th year in this music industry. Such a long long journey to be a legend.

I've listened to MLTR's songs since in Junior High School, mostly are easy listening and very nice songs. But to be honest, at the first time I didn't know who are the personnel, never had a good attention into this band because I thought they are too old and not really handsome, so I never get interested.
But I'm totally wrong! MLTR is a romantic band from Denmark, and they are totally awesome and cool maximal. They're so charismatic on the stage, even in their age which is almost equal with my dad's. Hahaha.



Why you should watch this concert?
Too many reasons...
First of all, there's a wonderful feelings when we see them perform directly that can't be count, definitely their stages act. Even though you have to struggle first become the front row person in the concert. You have to waiting long hours before gate's open, then you have to run quickly after you get passed! It's not about competition, but it's about cozy stand you'll got.
Another reason, the set list! There are approximately 20 songs are sung by the band. From the new one, Silent Times, until the hits, Sleeping Child! As I mentioned before that their songs are mostly very easy-listening. So from the festival area, we were sing along together, feel the fancy euphoria and strong nostalgic feelings.
Really a great concert and full of commitment, considering the not so expensive ticket price.

So, these are the charming Scandinavian Sirs: Jascha Richter (vocalist), Mikkel Lentz (guitarist), and Kare Wanscher (drummer) with an additional bassist.






And for the first time ever in their tour, the most special performance in this concert goes to...All their children behind the "Sleeping Child" song! Seems like they're really love Indonesia, they bring their family also to travel this country. What the brilliant and hot daddys!


At least the one I know,
Michael may be failed learning rock, and never could be expert in rock. But they're totally cool in pop romance while we're rocking the night!

Thank you Michael Learns To Rock and all the crews for an awesome night. Great concert ever!
Go ahead. Go inspiring another sleeping child around the world. Yayyyyy!!!

Monday, December 22, 2014

Cocktail Party

Feeling fabulous in
Christmas Cocktail Party at Little Versailles
Sunday, 14 December 2014
at The Regale
Hosted by Brides on 22
The party is about us all catching up like we rarely get the chance to.


I came up with Henny, Fany, and Ci Sonia. Snap some fun photos, nibbles, drinks, and enjoy the live show performance. Celebrating the early Christmas, maybe?
The venue is so enchanting and glamor and they have a very beautiful decoration details also.
 
http://scontent-a.cdninstagram.com/hphotos-xap1/t51.2885-15/928368_522754371161487_795621833_n.jpg
Ice cream with personal topping mixed

Actually it's such a promotion bazaar, event planner, photo shoot, etc. But it's okay just came in and have a quality time to meet some new friends around. Like dress up well and keep the party going. Classy event! Many gorgeous and socialite peoples there. And guess whom I met...

Kak Yunita Elisabeth!

Met this super fabulous fashion blogger in town, Kak Yunita Elisabeth from Pink Teary Dream. I've known her in a fashion event too last year, when I interned as fashion journalism. She's so humble and friendly. We share a lot about hair tips. I adore her pretty hair color that always changed every 2 weeks. Wow totally awesome!

See ya at the next event, and have a blast holiday guyssss!

Thursday, December 4, 2014

CHOICE

Menurut kalian mendingan jadi pembangkang atau penjilat sih?



Mau share penderitaan mahasiswa nih. Katanya mahasiswa itu bebas berkreasi. Ternyata bohong. Kenyataannya kita masih aja terikat sama lembaga kampus dan beberapa oknum yang mengurusi keseharian kita.
Hmmm, mungkin susah ya buat orang yang punya latar belakang preman kayak gue untuk berubah 180 derajat jadi mahasiswa yang berbudi pekerti luhur. Gue memang suka semau-mau sendiri. Dan walaupun gue udah berusaha banget memperbaiki kelakuan, tetep aja nggak bisa sepenuhnya menutupi sifat yang udah tertanam. Rambut gue ombre pirang, pake rok di atas lutut, dan suka terlambat. Jelaslah kesannya gue bukan cewek baik-baik. Hahaha.

Kadang semua dijadiin kendala, apalagi dalam profesi medis. Beberapa staf pengajar merasa perlu menegur mahasiswa yang berpenampilan kayak gue. Jadi selama koass ini gue udah punya koleksi kasus di kampus karena hal-hal sepele semacam itu. Baru 3 bulan ngejalanin koass, dan di setiap departemen ada aja haters baru. Bahkan departemen yang kata mereka adalah surga, bagi gue adalah neraka. Asli nggak nyaman banget gue. Yah kalo bukan demi masa depan...
Gue sih oke-oke aja ya kalo misalnya dimarahin karena salah dalam pekerjaan, atau karena gue bodoh, atau ceroboh. Tapi ini cuma gara-gara penampilan! Itu sih udah semacam pelanggaran hak asasi namanya. Memangnya se-luarbiasa apa sih penampilan gue? Masih dalam batas wajar kok. Gue bukannya pake hot pants kan ke kampus. Apalagi setau gue nggak ada tuh peraturan tertulis yang melarang hal ini, yang berarti itu merupakan peraturan ilegal dari subyek-subyek tertentu aja kan.

Mungkin wajar-wajar aja gue meng-ombre rambut dan pake rok diatas lutut kalo seandainya gue mahasiswa jurusan fashion/design/seni. Tapi mengingat jurusan yang gue tekuni di kedokteran gigi, mungkin hal kayak gini jadi tabu. Gue masih bingung juga sih, kenapa coba harus dibedain? Kenapa orang-orang nggak bisa berpikir open-minded? Kan justru malah bagus kalo para mahasiswa kedokteran jadi stylish dan fashionable, nggak melulu dengan preppy look yang membosankan dari jaman ke jaman. Kita itu dinilai dari pekerjaan kita, bukan cuma dari penampilan luar. Jadi, kenapa harus dilarang berkreasi sebebas-bebasnya?

Ini bukan cuma cerita tentang gue. Gue punya temen cewek anak kedokteran yang bertatto di lehernya. Kalo rambutnya digerai memang nggak kelihatan, tapi sewaktu praktikum/lab rambutnya dikuncir dan kelihatan. Lagi-lagi ada aja staf pengajar yang sinis ngelihatnya, bahkan sampe nggak dilulusin ujiannya. Padahal dia merasa bisa loh ngejawab semua soalnya, dan hal itu nggak cuma terjadi sekali-dua kali. Udah remedial kesekian kalinya dengan dosen yang sama juga tetep aja nggak lulus. Sampe akhirnya dia nggak tahan dan mengundurkan diri dari kedokteran. Tau nggak gara-garanya apa? Cuma gara-gara dia bertatto! Luar biasa tidak adilnya.

Jaman dulu mungkin orang-orangtua dihormati karena kebijaksanaan mereka. Tapi sekarang jaman kan udah beda banget, dan kenyataannya nggak semua orang yang lebih tua dari kita itu lebih bijaksana. Beberapa bahkan masih cenderung labil layaknya abege. Herannya, generasi muda nya juga banyak yang nggak tanggap. Lingkungan di sekitar gue contohnya. Beberapa temen gue kalo udah ditegur sama orang yang lebih dewasa (misal senior atau dosen) langsung manggut-manggut. Bukannya dicerna dulu bener atau enggak. Seolah-olah mereka nyari 'aman', biar nggak berdebat panjang. Bahkan beberapa cenderung jadi penjilat, baik di depan, bergosip di belakang. Gue sendiri bukan tipe penjilat, ya kalo bisa dibilang gue pembangkang. Kadang gue gemes sih ya, rasanya hati ini pengen ngebangkang aja gitu kalo ada yang ngelarang-larang gue melakukan sesuatu. Makin dilarang justru adrenalin gue semakin terpacu untuk melawan. Hmmm kadang hal semacam keras kepala juga perlu, walaupun nggak di semua situasi juga sih bisa diterapkan, ya mau gimana lagi namanya demi pergaulan. Jaman sekarang sih harus banyak ngikutin kemauan orang kalo nggak mau punya banyak musuh.

Menurut gue, semuanya pilihan aja sih. Semua ada sisi baik dan buruknya. Mau jadi mahasiswa yang gaya, keren, dan stylish tapi harus berani menghadapi teguran. Hadapi aja, ya anggep sebagai latihan mental biar jadi orang yang lebih kuat menjalani cobaan. Toh di kehidupan nyata juga nasib kita nggak selalu mulus kok, pasti ada aja orang yang nggak suka sama kita dan tetap harus dihadapi.
Atau mau jadi mahasiswa teladan, baik, patuh, nggak pernah berkasus, tapi biasa-biasa aja dan mainstream. Menurut gue sih, jadi orang baik nggak harus dengan cara selalu mengikuti kemauan orang kok. Masih banyak cara lain jadi mahasiswa teladan, buktikan dengan prestasi misalnya.
Ya tergantung diri lo sendiri lah pokoknya. You decide!

Your lucky number-

AmazingCounters.com

Let's share..